"Bangsa Ini Bukan Kurang Rasa tetapi Kurang Karsa"
Di era globalisasi seperti sekarang ini, pemuda Indonesia berlomba-lomba
meneriakkan rasa nasionalisme-nya. Tapi sadarkah kita selama ini? Rasa yang di
elu-elukan bukanlah rasa nasionalis yang seharusnya, melainkan rasa nasionalis
individualis yang timbul dalam balutan idealis. Tidak sedikit yang salah kaprah
akan arti nasionalisme yang sebenarnya. Banyak pihak yang ingin tampil
mengedepankan rasa nasionalismenya masing-masing, semua ingin memimpin,
ingin punya kekuasaan. Bagaimana bisa, semua dilakukan tanpa rasa kesatuan?
Pemuda sekarang seolah-olah terpetak oleh sekat yang amat kuat. Ada sisi
pemuda yang ingin maju, dan sisi yang lain bersikap tak acuh, bahkan tak mau
tahu akan keadaan bangsanya. Jika dijabarkan, mungkin akan ada berlembarlembar
kertas yang menuliskan perilaku kontras antar pemuda.
Zaman ini bisa dibilang zaman dimana bukti hanya sekedar bukti. Usaha
hanya sekedar usaha yang penting “jadi”. Nasionalisme pemuda Indonesia
sebenarnya tak perlu lagi diragukan. Tetapi, wujudnya patut di pertanyakan.
Memang, tidak semua pemuda Indonesia memiliki wujud nasionalisme yang
salah. Namun, ketidakseragaman itulah yang membuat bangsa ini mudah
diceraikan.
Tarik satu contoh, ada pemuda yang mengutuk pencuri kebudayaan
Indonesia. Tetapi, saat temannya berjuang dalam ajang Fashion Show tingkat
Internasional -yang menampilkan pakaian khas Indonesia- Ia malah sedang
berlenggok mengenakan pakian impor ala barat. Ironis bukan?
Satu contoh lagi yang bisa kita kupas, pemuda menunjukkan rasa
nasionalisme-nya yang salah dengan mencaci kinerja pemerintah di jalan atau
bahkan di media sosial. Apa hal ini memberikan hasil nyata? Tidak. Bangsa ini
butuh bukti nyata dari para pemuda, bangsa ini butuh aspirasi mereka. Pemuda
Indonesia adalah insan cerdas, negara ini sebenarnya tidak kekurangan orangorang
cerdas. Negara ini hanya kekurangan orang yang mau bergerak secara
nyata.
Jika semua pemuda Indonesia, atau minimal 85% darinya telah memiliki
kesepahaman mengenai nasionalisme, maka menjadikan Indonesia negara maju
dalam sekejap bukanlah hal yang mustahil. Itulah hebatnya kekuatan para pemuda
yang juga diakui oleh Ir. Soekarno dalam kalimatnya di sebuah orasi, “beri aku
sepuluh pemuda, maka aku akan mengubah dunia”. Pernyataan beliau sangat
beralasan, karena pemuda Indonesia punya potensi besar dalam memajukan
bangsanya.
Tentunya potensi besar itu harus dibangun oleh saya dan pemuda lainnya,
kami harus bergerak secara bersama, sepaham, dan sejalan. Jangan tanya apa yang
sudah diberikan negara, tanyakan apa yang sudah di sumbangkan kita semua.
Nasionalisme tentu saja masih relevan, cinta tanah air tetap dibutuhkan. Namun
tantangan di masa depan, tidak bisa dijawab hanya dengan slogan-slogan. Semua
harus dilakukan dengan sepadan, lewat program real yang serius dan
berkelanjutan. Inilah nasionalisme yang relevan di masa depan, kala negara dan
warga tau benar hak dan kewajiban.
Sebagai generasi muda yang cerdas, memajukkan bangsa bukan hanya
lewat rasa, tetapi lewat karsa dan bukti nyata. Bung Karno pernah berpesan
“Tuhan tidak merubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya”.
Disinilah peran kami –para pemuda- yang akan merubah nasib bangsa ini menjadi
lebih baik. Jika semua pemuda sudah sadar peran dan posisi, semua akan ikhlas
bernyanyi, bagimu negeri jiwa raga kami!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar